PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahasa memainkan
peranan penting dalam hidup kita. Barangkali karena lazimnya, jarang sekali
kita memperhatikannya dan lebih menganggapnya sebagai hal yang biasa, seperti
bernapas atau berjalan. Bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan
termasuk dari apa yang membedakan manusia dari binatang-binatang, tetapi bahasa
tidak mempunyai tempat dalam program pendidikan kita atau dalam
spekulasi-spekulasi para ahli filsafat kita. Baru kira-kira pada abad yang lalu
bahasa dikaji secara ilmiah, dengan diamati secara teliti dan menyeluruh beberapa
kekecualiannya akan dibahas pada makalah ini.
Linguistik
adalah pengkajian (studi) tentang bahasa, baru berada pada taraf permulaan.
Pengetahuan yang telah diperolehnya belum menjadi bagian pendidikan tradisional
kita "tata bahasa" dan pengajaran kebahasaan yang lain di
sekolah-sekolah kita terbatas pada mewariskan pengertian-pengertian
tradisional. Banyak orang mendapat kesulitan pada permulaan mempelajari bahasa,
tidak dalam memahami metode-metode atau hasil-hasilnya (yang cukup mudair), tetapi
alam menanggalkan praduga-praduga yang dipaksakan kepada kita oleh ajaran
skolastik populer kita.
Rumusan Masalah
Bagaimana
pengkajian bahasa menurut Leonard Bloomfield?
Tujuan
Untuk mengetahui
pengkajian bahasa menurut Leonard Bloomfield.
PEMBAHASAN
SUBSTITUSI
Substitut atau
pengganti (substitute) adalah bentuk bahasa atau ciri gramatikal yang dalam
keadaan-keadaan konvensional tertentu, menggantikan salah satu kelas bentuk
bahasa. Jadi, dalam bahasa Inggris, substitusi I menggantikan suatu ungkapan
nominal singularis, asal ungkapan nominal itu menandakan penutur ujaran yang
di situ substitut tersebut digunakan.
Kekhasan
gramatikal substitusi berupa ciri-ciri pilihan: substitut hanya menggantikan
bentuk-bentuk suatu kelas tertentu, yang boleh kita sebut medan makna
substitut. Jadi, medan makna substitut I adalah kelas bentuk ungkapan nominal
Inggris. Substitut berbeda dengan bentuk bahasa biasa, seperti thing, person,
object, oleh karena medan maknanya dapat dijelaskan secara gramatikal. Apakah
suatu bentuk biasa, bahkan yang artinya paling mencakup, seperti thing, dapat
digunakan pada situasi nyata ini atau itu, adalah persoalan arti yang nyata, akan
tetapi, ekuivalensi substitut ditentukan secara gramatikal. Misalnya, tidak peduli
siapa atau apa yang kita tuju, kita boleh menyebut pendengar yang sebenarnya
atau yang dibuat-buat dalam bentuk ungkapan nominal itu dengan substitut you dan
untuk itu kita tidak memerlukan pengetahuan praktis mengenai orang, binatang,
barang, atau abstraksi yang kita perlakukan sebagai pendengar.
Salah satu unsur
pada makna tiap-tiap substitut adalah makna kelas dari kelas bentuk yang
digunakan sebagai medan makna substitut. Makna kelas substitut you, misalnya adalah
makna kelas ungkapan-ungkapan nominal Inggris; makna kelas I adalah makna
kelas ungkapan-ungkapan nominal singularis, dan makna kelas substitut they dan
we adalah makna kelas ungkapan-ungkapan nominal pluralis.
Meskipun begitu,
akan berguna bagi kita meninggalkan bidang linguistik sebentar dan meneliti
masalah-masalah yang di sini dihadapi oleh mereka yang menyelidiki sosiologi
dan psikologi. Teryata berbagai tipe substitusi merupakan keadaan-keadaan
sederhana dalam perbuatan berbicara. Sering sekali, beberapa tipe substitusi
tertentu ditandai lebih lanjut dengan keadaan bentuk yang diganti, yang
terdapat pada wicara yang baru-baru saja diujarkan. Jadi, apabila kita
mengatakan Ask that policeman, and he will tell you, substitut he berarti,
antara lain, bahwa ungkapan nominal maskulin singularis yang diganti dengan he,
baru-baru saja diujarkan. Substitut yang mengandung arti ini adalah substitut
anaforis atau terikat dan bentuk yang baru-baru saja diujarkan adalah
anteseden. Akan tetapi, pembedaan itu rupanya tidak pernah sepenuhnya dilakukan.
Kembali kepada
latar linguistik, mungkin kita sedikit berani, mengingat apa yang telah kita
lihat dalam penyelidikan praktis kita, dalam menerangkan makna substitut-substitut.
Kita lihat juga bahwa dalam banyak bahasa, makna substitut-substitut terdapat
kembali dalam bentuk-bentuk lain.
Substitusi yang
tipe substitusinya tidak bentuk apa-apa selain anafora, adalah substitut
anaforis (biasa), lepas dari makna kelasnya (yang tentu saja berbeda menurut
kelas bentuk gramatikal bahasa-bahasa yang berbeda), substitut-substitut itu
hanya mengatakan bahwa bentuk yang sedang digantikan (anteseden) baru saja
disebutkan. Dalam bahasa Inggris, ungkapan-ungkapan verba finit secara
anaforis diganti dengan bentuk-bentuk do, does, did seperti pada Bill will
misbehave just as John did. Di sini antesedennya adalah misbehave; maka bentuk
yang diganti adalah misbehaved.
Barangkali semua
bahasa menggunakan substitut-substitut pronominal yang menggabungkan anafora
dengan identifikasi tentu: bentuk yang digantikan adalah contoh jenis yang
diidentifikasikan dan disebut oleh anteseden.
Substitut-substitut
interogatif mendorong pendengar untuk memberikan jawaban jenis atau identifikasi
individunya; maka dalam bahasa Inggris, substitut-substitut interogatif hanya
terdapat pada pertanyaan-pertanyaan tambahan. Dari pronomina-pronomina, ada who?
(akusatifnya, whom?) untuk yang personal dan what? untuk yang nonpersenal.
B. KELAS-KELAS BENTUK DAN LEKSIKON
Ada dua macam
ciri penandaan bahasa yang bermakna: bentuk-bentuk leksikal, yang terdiri dari
fonem-fonem, dan bentuk-bentuk gramatikal, yang terdiri dari taksem-taksem.
Jika kita perluas istilah leksikal untuk mencakup semua bentuk yang dapat
diterangkan berdasarkan fonem, bahkan termasuk bentuk-bentuk yang sudah
mengandung ciri-ciri gramatikal tertentu (misalnya, poor John atau duchess atau
ran), maka paralelisme ciri-ciri leksikal dan gramatikal dapat ditunjukkan
dengan seperangkat istilah yang berikut:
satuan penandaan
bahasa yang terkecil dan tak bermakna: femem;
leksikal: fonem;
gramatikal: taksem;
Satuan penandaan
bahasa terkecil yang bermakna: glosem; makna glosem adalah noem;
leksikal: morfem;
makna morfem adalah semem;
gramatikal: tagmem;
makna tagmem adalah episemem;
Satuan penandaan
bahasa yang bermakna, terkecil atau kompleks: bentuk linguistis; makna bentuk
linguistis adalah makna linguistis;
leksikal: bentuk
leksikal; makna bentuk leksikal adalah makna leksikal;
gramatikal: bentuk
gramatikal; makna bentuk gramatikal adalah makna gramatikal.
Tiap-tiap bentuk
leksikal berhubungan dengan bentuk-bentuk gramatikal dalam dua arah. Pada satu
pihak, bentuk leksikal, meskipun disendirikan, secara abstrak, memperlihatkan
struktur gramatikal yang bermakna.
Kita lihat bahwa
fungsi bentuk-bentuk tertentu ditentukan oleh konstituen atau konstruksinya. Setiap
fungsi yang ditentukan demikian dikatakan teratur dan fungsi yang tidak
ditentukan demikian dikatakan tak teratur. Jadi, jika kita tahu bahwa
kata-kata fox atau ox itu nama-nama jenis singularis, yang terkatung-katung
antara genus nonpersonal dan personal, maskulin, maka dapat kita katakan bahwa fox
berfungsi teratur bergabung dengan sufiks pluralis [-ez] pada bentuk foxes
(karena fungsi ini sama-sama dipunyai oleh nomina-nomina singularis yang tak
terhitung jumlahnya), tetapi ox berfungsi tak teratur bergabung dengan sufiks
pluralis [-n]. Linguis biasanya menerapkan istilah-istilah teratur dan tak
teratur pada bentuk itu sendiri, dengan mengatakan, misalnya, bahwa nomina fox
itu teratur dan nomina ox tak teratur; tentu saja kita harus memerinci fungsi
tempat berlakunya istilah-istilah itu, karena pada fungsi-fungsinya yang lain
nomina-nomina fox dan ox sama benar. Linguis memperluas lagi penerapan istilah-istilah
itu pada bentuk-bentuk resultannya, dengan mengatakan, bahwa nomina pluralis foxes
itu teratur dan nomina pluralis oxen tak teratur.
REKAMAN-REKAMAN
TERTULIS
Bagi seorang
pengamat, bahasa suatu masyarakat bahasa tampak sebagai sistem penandaan yang
rumit, seperti yang dengan sibuk kita pikirkan pada bab-bab sebelumnya dalam
buku ini. Setiap saat kita berhadapan dengan bahasa, ini tampak sebagai
struktur kebiasaan-kebiasaan leksikal dan gramatikal yang stabil.
Kata merupakan
satuan bahasa yang pertama dilambangkan dalam tulisan. Sistem-sistem tulisan
yang memakai lambang untuk setiap kata ujaran yang diucapkan, dikenal dengan
nama yang menyesatkan: tulisan ideografis. Yang penting mengenai tulisan,
tepatnya, ialah bahwa huruf-hurufnya tidak menggambarkan ciri-ciri dunia nyata
("ide-ide"), tetapi ciri-ciri bahasa orang-orang yang menulis; oleh
karena itu, nama yang lebih baik mungkin tulisan kata atau tulisan logografis.
Asas tulisan
menurut abjad satu lambang untuk setiap fonem tentu saja dapat diterapkan pada
setiap bahasa. Tidak memadainya sistem-sistem yang dipakai kebanyakan
disebabkan oleh konservatisme orang-orang yang menulis. Penulis tidak
menganalisis sistem fonetis bahasanya, tetapi hanya menulis setiap kata
seperti yang pernah dilihatnya dalam tulisan-tulisan pada pendahulunya.
Bilamana seni menulis menjadi benar-benar mantap dalam suatu masyarakat, tidak
hanya ejaan kata-kata, tetapi juga bentuk-bentuk leksikal dan gramatikal
menjadi konvensional bagi rekaman-rekaman tertulis.
Dari semua itu
jelaslah bahwa rekaman-rekaman tertulis hanya memberikan kepada kita suatu gambaran
wicara masa lampau yang tidak lengkap dan sering berubah bentuknya, yang harus
dibaca dan ditafsirkan, sering dengan susah payah. Sebagai permulaan adalah
nilai-nilai logografis atau fonografis tanda-tanda dalam tulisannya yang mungkin
tidak diketahui. Kalau demikian, masalah membacanya kadang-kadang membuat
orang berputus asa.
Ada beberapa
masalah sampingan yang kadang-kadang membantu kita dalam menafsirkan dokumen-dokumen
tertulis secara linguistik. Dalam bentuk-bentuk komposisi yang kita
kelompokkan dengan nama sajak (verse), penulisnya mengikat dirinya untuk
mematuhi pola-pola fonetis tertentu. Jika kita tahu bahwa seorang penyair
menggubah dengan konvensi rima-rima yang tepat, dari kata-kata rimanya kita
dapat memeroleh banyak informasi yang mungkin tidak terdapat pada
ejaan-ejaannya.
METODE
KOMPARATIF
Pada Bab 1 kita
Iihat bahwa ada beberapa bahasa yang begitu mirip satu sama lain sehingga hanya
dapat dijelaskan oleh hubungan sejarahnya. Tentu saja ada kemiripan yang
mungkin disebabkan oleh faktor-faktor universal. Ciri-ciri seperti fonem,
morfem, kata, kalimat, konstruksi, dan tipe substitusi, terdapat dalam
tiap-tiap bahasa. Ciri-ciri tersebut tak terpisahkan dengan sifat wicara
manusia. Ciri-ciri lain, seperti kelas-kelas bentuk mirip nomina dan bentuk
mirip verba, kategori-kategori jumlah, persona, kasus, dan kala, atau
posisi-posisi gramatikal pelaku, tujuan verba, dan pemilik, tidak universal,
tetapi begitu luas tersebar sehingga kelak pengetahuan yang lebih baik pasti
akan menghubungkannya dengan ciri-ciri khusus manusia yang universal. Banyak
ciri yang tidak tersebar luas di antaranya ada yang sangat khusus dan bahkan sangat
harus terdapat pada bahasa-bahasa yang jauh terpisah dan sama sekali tidak ada
hubungan kekerabatan; ciri-ciri itu pun kelak mungkin diharapkan membantu
menjelaskan psikologi manusia.
Suatu bentuk
rekonstruksi merupakan rumus yang menunjukkan identitas-identitas atau
kesepadanan-kesepadanan fonem yang sistematis dan terdapat pada sekelompok
bahasa yang berkerabat; lagi pula, karena identitas-identitas dan
kesepadanan-kesepadanan itu mencerminkan ciri-ciri yang sudah ada pada bahasa
induknya, bentuk rekonstruksi itu juga merupakan diagram fonemis bentuk
moyangnya.
Metode
komparatif memberikan kemampuan yang bahkan lebih besar untuk meneliti
rekonstruksi-rekonstruksi Germanika Purba kita. Karena bahasa-bahasa Germanika
merupakan cabang keluarga bahasa Indo-Eropa, bentuk-bentuk Germanika Purba kita
menjadi satuan-satuan untuk dibandingkan dengan bentuk-bentuk dalam
bahasa-bahasa IndoEropa yang lain. Bentuk-bentuk rekonstruksi Indo-Eropa Purba
memberikan kepada kita suatu bagan struktur yang masih lebih tua lagi, dari
situlah struktur Germanika Purba telah tumbuh.
Metode
komparatif pada dasarnya, tidak mengatakan apa-apa mengenai bentuk akustik
bentuk-bentuk rekonstruksi; metode ini mengidentifikasikan fonem-fonem pada
bentuk-bentuk rekonstruksi hanya sebagai satuan-satuan yang terulang-ulang.
Bahasa-bahasa di Indonesia menunjukkan contoh yang menarik perhatian dalam hal
ini. Setiap bahasa hanya memiliki beberapa fonem tipe [d, g, 1, r], tetapi variasi
kesepadanannya meyakinkan kita akan sejumlah besar fonem dalam bahasa induknya.
Sifat akustik fonem-fonem itu hanya dapat dikira-kira; lambang-lambang yang
dipakai untuk menggambarkannya hanyalah label-label untuk kesepadanan saja.
Patut diperhatikan bahwa kita memiliki rekaman-rekaman tertulis yang lebih tua
dari bahasa-bahasa tersebut kecuali Jawa; ini sama sekali tidak memengaruhi
penerapan metode komparatif. Delapan tipe kesepadanan yang normal akan cukup
tampak jika kita ambil tiga bahasa untuk kita perhatikan: Tagalog (di Pulau Luzon,
Ftlipina), Jawa dan Batak (di Pulau Sumatra).
Metode
komparatif beranggapan bahwa setiap cabang atau bahasa membawa kesaksian
tersendiri bagi bentuk-bentuk bahasa induknya dan bahwa identitas-identitas
atau kesepadanan-kesepadanan di antara bahasa-bahasa kerabat mengungkapkan ciri-ciri
bahasa induknya. Ini sama saja dengan beranggapan, pertama, bahwa masyarakat
induknya sepenuhnya seragam mengenai bahasa, dan kedua bahwa masyarakat induk
itu secara tiba-tiba dan jelas-jelas terbelah menjadi dua masyarakat atau lebih
yang kehilangan segala hubungan yang satu dengan yang lain.
Para peneliti
bahasa Indo-Eropa terdahulu tidak menyadari bahwa bagan silsilah itu hanyalah
suatu keterangan metode mereka; mereka menerima adanya bahasa-bahasa induk
yang seragam dan terbelahnya secara tiba-tiba dan jelas sebagai
kenyataan-kenyataan sejarah.
GEOGRAFI DIALEK
Metode
komparatif, dengan anggapannya bahasa-bahasa induk yang seragam dan pembelahan
yang mendadak dan jelas, mengancung kebaikan, yakni membeberkan sisa
bentuk-bentuk yang tak dapat dijelaskan berdasarkan anggapan itu.
Isoglos-isoglos yang luas dan berlawanan di wilayah bahasa Indo-Eropa. Adanya
perpecahan itu berbagai kelompok masyarakat turunan tetap berkomunikasi; kedua
keterangan itu berarti bahwa wilayah-wilayah atau bagian-bagian wilayah yang sudah
berbeda dalam segi-segi tertentu itu mungkin sama-sama masih mengadakan perubahan-perubahan.
Maka, hasil perubahan yang berturut-turut itu adalah jaringan isoglos yang
meliputi seluruh wilayah. Oleh karena itu, pengkajian mengenai
perbedaan-perbedaan lokal di suatu wilayah bahasa, geografi dialek, melengkapi
penggunaan metode komparatif.
Perbedaan-perbedaan
lokal di dalam suatu wilayah bahasa tidak pernah luput dari perhatian, tetapi
pentingnya baru akhir-akhir ini disadari. Para ahli tata bahasa yakin bahwa
bahasa standar golongan atas dan sastra lebih benar menurut ukuran akal sehat
daripada bentuk bahasa lokal, yang disebabkan oleh ketidaktahuan dan
kecerobohan orang-orang kebanyakan. Walaupun begitu, akhirya diketahui bahwa
dialek-dialek lokal melestarikan suatu ciri kuno yang tidak terdapat lagi dalam
bahasa standar. Menjelang akhir abad ke-18 mulai muncul kamus-kamus dialek,
yang memaparkan kekhasan-kekhasan leksikal bahasa nonstandar.
Pada waktu
sekarang ada tiga bentuk utama pengkajian dialek. Yang paling tua adalah yang
leksikal. Mula-mula, kamus-kamus dialek hanya memuat bentuk-bentuk dan arti-arti
yang berbeda dengan pemakaian standar. Kriterium ini tentu saja tidak relevan.
Dewasa ini kita mengharapkan kamus dialek lokal yang menyajikan semua kata yang
umum dipakai dalam bahasa nonstandar, dengan ketepatan fonetis dan perhatian
yang wajar terhadap penjelasan anti. Kamus dialek untuk seluruh daerah atau
wilayah merupakan usaha yang lebih besar. Ini sebaiknya menerangkan susunan
fonemis untuk setiap tipe bahasa lokal dan oleh karenanya hampir tak dapat
dipisahkan dari penelitian fonologis. Kita harapkan suatu keterangan mengenai
wilayah geografisnya yang tiap-tiap bentuk umum dipakai, tetapi keterangan ini
dapat diberikan dengan jauh lebih baik dalam bentuk peta.
PERUBAHAN
FONETIS
Rekaman-rekaman
tertulis bahasa masa lalu, kemiripan antara bahasa-bahasa, dan variasi-variasi
pada dialek-dialek lokal, semuanya menunjukkan bahwa bahasa-bahasa berubah
sepanjang masa. Dalam rekaman-rekaman bahasa Inggris Kuno, kita dapati kata stan
"stone", yang secara fonetis kita tafsirkan sebagai [sta:n]; jika
kita percaya hahwa kata Inggris masa kini stone (stown) adalah bentuk modern
kata Inggris Kuno itu, melalui tradisi yang tak terputus, maka harus kita
andaikan bahwa [a:] lnggris Kuno di sini telah berubah menjadi [ow] modern. Jika
kita percaya bahwa kemiripan-kemiripan itu terjadi tidak kebetulan saja, tetapi
karena tradisi kebiasaan-kebiasaan bicara, maka harus kita simpulkan bahwa
perbedaan-perbedaan antara bentuk-bentuk yang mirip itu disebabkan oleh
perubahan-perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan bicara itu.
Pada permulaan
abad ke-19 terdapat beberapa sarjana yang dengan sistematis memilih tipe-tipe
kemiripan tertentu, terutama kasus-kasus kesesuaian atau kesepadanan fonetis.
Langkah pertama yang pantas diperhatikan adalah pengamatan Rask dan Grimm (1.7)
mengenai kesepadanan-kesepadanan antara bahasa Germanika dan bahasa-bahasa
Indo-Eropa lain. Di antara kumpulan bentuk mirip yang sangat banyak jumlahnya
dan kacau balau itu, mereka memilih bentuk-bentuk tertentu yang menunjukkan
korelasi fonetis yang seragam.
Para peneliti
bahasa telah menerima korelasi-korelasi itu (dan menyebutnya, dengan metafora
yang berbahaya, "hukum" Grimm) sebab klasifikasi yang mulai mereka
pakai dikukuhkan oleh penelitian selanjutnya: data baru menunjukkan
kesepadanan-kesepadanan yang sama, dan kasus-kasus yang tidak menunjukkan
kesepadanan-kesepadanan itu dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi lain.
KETIDAKTETAPAN DALAM
FREKUENSI BENTUK-BENTUK
Anggapan
mengenai perubahan fonetis membagi perubahan-perubahan bahasa menjadi dua tipe
utama. Perubahan fonetis hanya memengaruhi fonem-fonem, dan mengubah
bentuk-bentuk bahasa hanya dengan mengubah bentuk fonetisnya saja.
Jika bentuk-bentuk
sisa bukan malaran bentuk-bentuk kuno dengan perubahan bunyi saja,
bentuk-bentuk itu mesti telah masuk ke dalam bahasa sebagai inovasi-inovasi.
Akan kita lihat bahwa ada dua macam inovasi yang menjelaskan bentuk-bentuk sisa
yaitu peminjaman bentuk-bentuk dari bahasa-bahasa lain (bait dari Norsk Kuno)
atau dialek-dialek lain (vat, vixen dari dialek-dialek lokal Inggris selatan),
dan penggabungan bentuk-bentuk kompleks yang baru (cow-s berdasarkan pola
"nomina singularis plus sufiks pluralis menjadi nomina pluralis").
Kedua macam inovasi itu, peminjaman dan perubahan analogis, akan menjadi
pembicaraan kita pada bab-bab berikut; sekarang kita hanya memerhatikan
pernyataan bahwa bentuk-bentuk yang tidak dijelaskan dengan korelasi fonetis,
masuk ke dalam bahasa pada saat-saat tertentu.
Jika bentuk yang
telah dimasukkan ke dalam bahasa lazim dan umum dipakai seperti, cows lazim
sebagai pluralis cow yang biasa kita pasti menduga bahwa bentuk itu telah
menjadi populer sejak pertama-tama mulai dipakai. Sebaliknya, jika bentuk
lama, seperti, pluralis [ky:] Inggris Kuno, yang karena perkembangan, dewasa
ini akan diucapkan [kaj] -telah hilang, kita pasti menduga bahwa bentuk itu
dulu melewati masa kemerosotan, yang selama itu tahun demi tahun makin kurang
dipakai. Ketidaktetapan dalam frekuensi bentuk-bentuk bahasa merupakan suatu faktor
dalam semua perubahan nonfonetis. Ketidaktetapan itu, sampai batas tertentu,
dapat diamati baik secara langsung maupun dalam rekaman-rekaman tertulis yang
ada.
Ketidaktetapan
dalam frekuensi bentuk-bentuk akan dapat diamati dengan cermat jika ada rekaman
tipe-tipe ujaran yang dibuat dalam suatu masyarakat bahasa selama jangka waktu
kapan saja yang ingin kita pelajari. Kemudian kita dapat membuat lembar
hitungan untuk tiap-tiap bentuk (termasuk bentuk-bentuk gramatika).
Sekarang
sewajarnya kita bertanya apakah suatu ciri bentuk yang secara linguistik dapat
dijelaskan artinya mungkin menyebabkan orang suka atau tidak suka memakai
bentuk itu. Ahli gaya bahasa dan ahli retorika mengatakan bahwa ada
bentuk-bentuk bahasa yang bunyinya lebih baik daripada yang lain-lain.
Satu-satunya kriterium fonetis rupanya ini, bahwa pengulangan fonem-fonem atau deretan-deretan
sering dihindarkan: frase seperti the observation of the systematization of
education tidak disukai.
Faktor semantis
menjadi penyebab lebih jelas tidak disukainya bentukbentuk bahasa yang homonim
dengan bentuk-bentuk tabu. Pembaca tidak akan sukar menemukan bentuk-bentuk
bahasa yang dia hindari dengan alasan itu.
Kasus-kasus
tersebut menunjukkan bahwa homonimi pada umumnya mungkin merusak frekuensi
suatu bentuk. Banyak homonim yang dibedakan dengan fungsi gramatikal yang
berlainan. Akan tetapi, ada suatu bukti bahwa homonimi-homonimi mungkin
menyebabkan kesulitan-kesulitan komunikasi yang mengakibatkan tidak terpakainya
lagi suatu bentuk. Sering sekali kita jumpai gabungan-gabungan yang teratur,
atau sekurang-kurangnya lebih teratur, di samping bentuk-bentuk kompleks yang
tak teratur.
Sebagian besar,
ketidaktetapan tidak bergantung kepada ciri-ciri formal, tetapi bergantung
kepada arti. Oleh karena itu, luput dari penyelidikan linguistik semata-mata.
Perubahan-perubahan yang selalu terjadi dalam kehidupan nyata masyarakat,
pasti akan memengaruhi frekuensi relatif bentuk-bentuk bahasa. Mulai adanya
kereta api, trem, dan mobil telah mengurangi frekuensi banyak istilah yang
berhubungan dengan kuda, abah-abah kuda, atau gerobak, dan menambah frekuensi
istilah-istilah yang berhubungan dengan peralatan mesin. Bahkan dalam
masyarakat yang paling terpencil dan kolot pun senantiasa, ada perubahan segala
sesuatu yang dibicarakan, sekurang-kurangnya ada perubahan dalam hal kelahiran
dan kematian.
Faktor paling
kuat yang menyebabkan semua ketidaktetapan bekerjanya di luar jangkauan
linguis: penutur menyukai bentuk-bentuk yang pernah didengarnya dari
penutur-penutur tertentu dan dengan suatu alasan prestise, memengaruhi
kebiasaan-kebiasaan bicaranya.
PERUBAHAN
ANALOGIS
Banyak bentuk
bahasa merupakan malaran bentuk-bentuk yang terdapat pada tahap terdahulu
bahasa yang sama. Ini jelas kasus pinjam-meminjam: kata seperti toboggan, yang
diambil alih dari suatu bahasa Indian Amerika, tidak mungkin sudah dipakai
dalam bahasa Inggris sebelum kolonisasi Amerika dan tentu saja, tidak kita
temukan dalam dokumen-dokumen bahasa Inggris yang berasal dari zaman sebelumnya.
Dalam kebanyakan
kasus, inilah yang paling mungkin kita pahami proses pengujaran bentuk baru
sangat mirip dengan proses analogi gramatikal biasa. Penutur yang mengucapkan
bentuk cows, tetapi belum pernah mendengarnya, mengucapkan bentuk itu tepat
seperti ia mengujarkan setiap nomina pluralis teratur lain.
Ahli-ahli
psikologi kadang-kadang keberatan terhadap rumus itu, dengan alasan bahwa
penutur tidak mampu menggunakan nalar menurut pola perbandingan itu. Jika
keberatan itu dianggap baik, linguis kiranya akan sulit membuat setiap
keterangan gramatikal, karena penutur biasa, yang bukan linguis, tidak
mendeskripsikan kebiasaan-kebiasaan bicaranya, akan sama sekali gagal membuat
rumusan yang benar. Orang-orang yang berpendidikan, yang telah mendapat latihan
tata bahasa di sekolah, terlalu tinggi menilai kemampuan mereka sendiri dalam
cara merumuskan kebiasaan-kebiasaan bicara dan yang lebih celaka lagi, lupa
bahwa kemampuan itu berkat tradisi filsafat yang rumit. Tetapi mereka
memandangnya sebagai bakat bawaan yang mereka harapkan akan ditemukan pada
semua orang dan merasa bebas untuk menyangkal kebenaran setiap keterangan
linguis yang penutur biasa tak mampu membuatnya. Kita mesti selalu ingat bahwa
penutur, yang tidak dilatih secara amat khusus, tidak mampu mendeskripsikan
kebiasaan-kebiasaan bicaranya. Rumus analogi perbandingan di atas dan
perubahan analogis, seperti semua keterangan lain dalam linguistik,
menggambarkan perbuatan penutur dan tidak berarti bahwa penutur sendiri dapat
memberikan deskripsi serupa.
Hanya dalam
teori dapat kita bedakan inovasi yang sebenarnya, penutur memakai bentuk yang
belum pernah ia dengar, setelah persaingan antara bentuk baru itu dan suatu
bentuk lama. Pengamat yang beberapa tahun yang lalu, mendengar bentuk radio,
mungkin saja mengira bahwa penutur itu tidak pernah mendengarnya dan sedang
menciptakannya berdasarkan analogi pluralis-pluralis nomina biasa, akan tetapi
pengamat mungkin tidak dapat memeroleh kepastian mengenai hal ini, karena
bentuk itu mungkin dapat diujarkan dengan sama baiknya oleh penutur-penutur
yang pernah dan yang belum pernah mendengarnya. Kedua macam penutur itu,
karena tahu bentuk singularis radio, akan dapat mengujarkan bentuk pluralisnya
dalam situasi yang sesuai.
Dalam
pembentukan kata, dasar yang paling mendukung bentuk-bentuk analogis adalah
tipe derivatif yang menyandang makna yang pasti. Jadi, segala macam nomina
pelaku baru kita bentuk dengan –er menurut yang kini merupakan analogi
gramatikal normal. Sufiks ini dipinjam dari bahasa Latin pada zaman
pra-Inggris dan telah menggantikan beberapa tipe asli.
Inovasi analogis
pada frase sangat mudah terlihat apabila memengaruhi bentuk kata-kata tunggal.
Perubahan-perubahan bunyi yang terbatas mungkin menimbulkan bentuk-bentuk kata
yang berbeda sesuai dengan posisi-posisi fonetisnya pada frase.
Untuk banyak
bentukan baru kita tidak dapat memberikan model perbandingan. Ini tidak selalu
karena kita tidak dapat menemukan perangkat-perangkat model dan sebenarnya ada
tipe perubahan bahasa yang mirip dengan perubahan analogis, tetapi terjadi
tanpa perangkat model. Bentukan-bentukan baru adaptif serupa dengan bentuk lama
dengan sedikit perubahan ke arah bentuk-bentuk yang ada hubungan semantisnya.
PERUBAHAN
SEMANTIS
Inovasi-inovasi
yang mengubah makna leksikal dan bukan fungsi gramatikal suatu bentuk,
diklasifikasikan sebagai perubahan makna atau perubahan semantis. Konteks-konteks
dan gabungan-gabungan frase suatu bentuk dalam naskah-naskah kuno kita sering
menunjukkan bahwa pada suatu ketika bentuk itu memunyai makna yang berbeda.
Dewasa ini
dengan mudah dapat kita ketahui bahwa perubahan makna pada bentuk bahasa
hanyalah akibat perubahan dalam pemakaian bentuk itu dan bentuk-bentuk lain
yang secara semantis berhubungan. Akan tetapi, peneliti-peneliti terdahulu
mendekati masalah ini dengan anggapan seakan-akan bentuk bahasa itu suatu
benda yang relatif tetap yang disertai makna seperti satelit yang dapat
berubah. Mereka berharap, dengan meneliti makna satu bentuk saja yang
berubah-ubah.
Dipandang pada taraf
ini, perubahan makna menunjukkan hubungan antara hal-hal yang nyata dan dengan
demikian menjelaskan kehidupan pada zaman dahulu. Selain hal-hal yang menarik
di luar bahasa itu semua memberikan suatu ukuran kemungkinan yang dapat kita
pakai untuk menilai perbandingan-perbandingan etimologis, tetapi tidak dapat
mengatakan bagaimana cara makna bentuk bahasa berubah dalam perjalanan waktu. Maka,
jika seorang penutur pernah mendengar suatu bentuk hanya dalam makna okasional
atau dalam rangkaian makna okasional saja, ia akan mengujarkannya hanya dalam
situasi-situasi yang serupa saja. Kebiasaannya mungkin berbeda dengan
kebiasaan penutur-penutur lain.
Penjelasan Paul
mengenai perubahan semantis menganggap terjadinya makna-makna pinggir dan keusangan
itu sudah semestinya dan memandang proses-proses itu sebagai
petualangan-petualangan bentuk bahasa perseorangan, tanpa mengacu kepada
bentuk-bentuk tandingan yang dalam kasus yang satu, memberi tempat kepada
bentuk yang sedang dipertimbangkan dan dalam kasus yang lain, melanggar batas
medannya. Meskipun begitu, pandangan ini merupakan kemajuan besar yang lebih dari
sekadar klasifikasi perbedaan-perbedaan makna. Terutama, ini memungkinkan Paul
menunjukkan secara perinci beberapa cara keusangan membongkar bidang makna yang
merupakan kesatuan-proses yang disebut isolasi.
Penjelasan Paul
mengenai perubahan semantis tidak menerangkan timbulnya makna-makna pinggir
dan usangnya bentuk-bentuk pada sebagian medan semantisnya. Begitu juga dengan
yang disebut penjelasan psikologis, seperti dari Wundt, yang sekadar
menerangkan hasil perubahan itu dengan kata-kata lain. Wundt mendefinisikan
makna pusat sebagai unsur dominan makna dan menunjukkan bagaimana unsur dominan
itu mungkin bergeser apabila suatu bentuk terjadi dalam konteks-konteks baru
yang khas. Jadi, ketika meat paling sering didengar, dalam situasi-situasi yang
menyangkut makanan daging, unsur dominan itu bagi makin banyak penutur menjadi
bukan "food" melainkan "flesh-food". Keterangan itu
membiarkan masalahnya tepat pada tempatnya semula.
PINJAMAN BUDAYA
Anak kecil yang
sedang belajar berbicara, mungkin kebanyakan kebiasaannya didapatkan dari
seseorang katakanlah, ibunya tetapi mesti juga mendengar penutur-penutur lain
dan beberapa kebiasaan diambilnya dari mereka. Bahkan perbendaharaan kata dan
ciri-ciri gramatikal dasar yang ia peroleh pada waktu ini tidak tepat
menirukan kebiasaan-kebiasaan salah seorang yang lebih tua. Di dalam bidang
pinjaman, kita bedakan antara pinjaman dialek, ciri-ciri yang dipinjam berasal
dari wilayah bahasa yang sama (seperti father, rather dengan [a] dalam dialek
dengan [e]), dan pinjaman budaya, ciri-ciri yang dipinjam berasal dari bahasa
yang berbeda. Pembedaan ini tidak selalu dapat dilakukan, karena tidak mungkin
diadakan pembedaan mutlak antara batas-batas dialek dan batas-batas bahasa.
Tiap-tiap
masyarakat bahasa belajar dari tetangga-tetangganya. Barang-barang, baik alami
maupun buatan, diteruskan dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, dan
begitu pula pola-pola perbuatan, seperti prosedur-prosedur teknis,
kebiasaan-kebiasaan suka berperang, upacara-upacara keagamaan, atau cara-cara
berperilaku perseorangan. Penyebaran barang-barang dan kebiasaan itu
diselidiki oleh ahli-ahli etnologi, yang menyebutnya penyebaran budaya.
Jika bangsa yang
meminjam relatif tahu benar tentang bahasa yang meminjamkan, atau jika
kata-kata yang dipinjam, cukup banyak, maka bunyi-bunyi asing yang akustiknya
jauh berbeda dengan setiap fonem bahasa ibu, mungkin dipertahankan dengan cara
mengucapkannya sedikit banyak tepat sehingga melanggar sistem fonetis bahasa
ibu. Dalam hal ini, ada banyak perbedaan lokal dan sosial. Deskripsi suatu
bahasa hendaknya mengenali lapisan bentuk-bentuk asing.
Bilamana kita
dapat menerima adanya faktor adaptif itu, perkembangan fonetik bentuk-bentuk
pinjaman sering menunjukkan bentuk fonetisnya pada waktu dipinjam dan oleh
karena itu menunjukkan kira-kira saat terjadinya berbagai perubahan bunyi
PINJAMAN AKRAB
Pinjaman budaya
berupa bentuk-bentuk bahasa biasanya timbal balik; ini jadi berat sebelah
apabila pada bangsa yang satu terdapat lebih banyak yang diberikan daripada
yang lain. Jadi, pada zaman misi, dari abad ke-7 dan selanjutnya, bahasa
Inggris Kuno meminjam istilah-istilah Latin yang berhubungan dengan agama
Kristen, seperti church, minister, angel, devil, apostle, bishop, priest, monk,
nun, shrine, cowl, mass, dan meniru semantik bahasa Latin dengan cara,
terjemahan pinjaman, tetapi, pada zaman itu, bahasa Inggris Kuno, sebaliknya,
tidak memberikan apa-apa. Bahasa-bahasa Nordika (Skandinavia) mengandung
beraneka macam istilah perdagangan dan pelayaran dari bahasa Jerman Rendah
yang disebabkan oleh keunggulan perdagangan di kota-kota Hanseatik Jerman
Utara) pada bagiann akhir Abad Pertengahan; demikian juga, bahasa Rusia
mengandung banyak istilah pelayaran dari bahasa Jerman Rendah dan Belanda.
Meskipun ada
kasus-kasus seperti itu, biasanya dapat kita bedakan antara pinjaman budaya
biasa dan pinjaman akrab yang terjadi apabila dua bahasa dipakai berbicara
dalam masyarakat yang secara topografis dan politis merupakan kesatuan. Situasi
ini timbul kebanyakan karena penaklukan, lebih jarang melalui perpindahan
secara damai. Pinjaman akrab itu berat sebelah: kita bedakan antara bahasa atas
atau dominan, yaitu bahasa kelompok penakluk atau kalau tidak yang lebih
terhormat kedudukannya, dan bahasa bawah, bahasa orang-orang yang ditaklukkan
atau, seperti bahasa di Amerika Serikat, imigran-imigran yang sederhana dan
miskin. Pinjaman, itu sebagian besar terjadi dari bahasa atas ke bahasa bawah,
dan sering sekali meluas kebentuk-bentuk bahasa yang tidak berhubungan dengan
perihal budaya yang baru.
Tinggal tipe
pinjaman tidak biasa yang sekurang-kurangnya ada kepastian bahwa bahasa atas
telah dimodifikasikan, meskipun perincian prosesnya tidak kurang kaburnya. Orang-orang
Gipsi Inggris (sekarang kebanyakan Amerika) telah kehilangan bahasa mereka dan
berbicara dengan suatu macam bahasa Inggris substandar yang secara fonetis dan
gramatikal wajar. Akan tetapi, di antara mereka sendiri, mereka menggunakan
kira-kira beberapa puluh sampai beberapa ratus kata bahasa Gipsi lama.
Kata-kata itu diucapkan dengan fonem-fonem Inggris dan infleksi serta sintaksis
Inggris. Itu adalah kata-kata untuk hal-hal yang paling umum sekali dan
meliputi istilah-istilah gramatikal, seperti pronomina.
PINJAMAN DIALEK
Anak kecil mulai
memeroleh kebiasaan-kebiasaan bahasanya dari orang-orang yang memeliharanya. Ia
dapatkan kebanyakan kebiasaannya dari seseorang tertentu, biasanya dari
ibunya, tetapi ia tidak menirukan bahasa orang itu dengan tepat sebab ia
mengambil bentuk-bentuk tertentu dari orang-orang lain. Apakah, dalam kasus
yang wajar, kebiasaan-kebiasaan yang tetap timbul sekadar sebagai
peniruan-peniruan yang tidak tepat, itu merupakan perkara selisih pendapat.
Nantinya, anak itu memeroleh kebiasaan-kebiasaan bahasa dari lebih banyak
orang; anak-anak suka meniru lebih-lebih ketika mereka mulai mengadakan hubungan-hubungan
di luar kalangan keluarga dekat mereka. Lama-lama, lingkungan orang-orang yang
ditiru menjadi makin luas; selama hidupnya, penutur menerima
kebiasaan-kebiasaan bahasa dari kawan-kawannya. Setiap saat, bahasanya merupakan
paduan kebiasaan unik yang diperoleh dari bermacam-macam orang.
Sering sekali
kelompok-kelompok penutur seluruhnya cocok dalam menerima atau menyukai atau
tidak menyukai suatu bentuk bahasa. Di dalam suatu kelompok, suatu gaya bahasa
akan diteruskan dari orang ke orang. Peminjaman kebiasaan-kebiasaan bahasa di
dalam masyarakat sebagian besar berjalan berat sebelah; penutur menerima
bentuk-bentuk baru dan kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang disukai dari orang-orang
tertentu lebih dari yang lain-lain. Dalam setiap kelompok, orang-orang
tertentu lebih banyak ditiru daripada yang lain, mereka itu pemimpin-pemimpin
yang berkuasa dan terhormat. Meskipun tidak jelas, kelompok-kelompok yang
berbeda banyak menerima secara berat sebelah juga. Tiap-tiap orang termasuk
lebih dari satu kelompok bahasa minor; suatu kelompok dipengaruhi oleh
orang-orang yang menurut garis pembagian lain, termasuk kelas yang dominan. Di
antara kawan-kawan sepekerjaannya misalnya penutur akan meniru orang-orang yang
dianggapnya berkedudukan "sosial" paling tinggi.
Klasifikasi
linguis mengenai perubahan-perubahan menjadi tiga tipe penting, perubahan
bunyi, perubahan analogis-semantis, dan peminjaman adalah klasifikasi
fakta-fakta akibat proses-proses yang halus dan rumit. Proses-proses itu
sendiri sebagian besar luput dari pengamatan kita; yang kita punyai hanyalah
kepastian bahwa keterangan yang sederhana mengenai akibat-akibatnya mesti
mengandung hubungan tertentu dengan faktor-faktor yang menimbulkan
akibat-akibat itu.
Karena tiap-tiap
penutur bertindak sebagai mediator antara kelompok-kelompok yang di dalamnya
ia termasuk, perbedaan-perbedaan bahasa di dalam suatu wilayah dialek hanya
disebabkan oleh tidak adanya penutur-pentur mediator. Pengaruh pusat bahasa akan
menyebabkan tersebarnya suatu bentuk bahasa ke setiap arah sampai pada suatu
garis lemah pada kepadatan komunikasi, tidak mendapatkan pengikut lagi.
Bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, dengan nilai-nilai semantis yang berbeda,
kualifikasi-kualifikasi formal yang berbeda, dan bentuk-bentuk tandingan
berbeda yang perlu diatasi, akan tersebar dengan kecepatan-kecepatan yang
berbeda dan jarak-jarak yang dicapainya akan berbeda-beda pula. Kemajuan
bentuk baru itu mungkin terhenti karena kemajuan suatu bentuk tandingan dari
pusat bahasa yang berdekatan atau mungkin karena pusat bahasa yang berdekatan
memakai bentuk yang tak berubah.
Perincian
mengenai timbulnya bahasa-bahasa standar yang terkenal, seperti bahasa Inggris
standar, tidak diketahui, karena sumber tertulis tidak memberikan gambaran
yang cukup jelas kepada kita. Pada tahap-tahap awalnya, sebagai dialek lokal
dan kemudian sebagai tipe bahasa daerah, bahasa yang kemudian menjadi bahasa
standar itu mungkin telah banyak meminjam. Bahkan sesudahnya, sebelum kedudukannya
yang tertinggi ditetapkan, dapat disusupi bentuk-bentuk dari luar. Bahasa
standar menarik penutur-penutur dari dialek-dialek daerah dan lokal.
Orang-orang yang paling sederhana mempelajarinya tidak dengan alasan yang
dibuat-buat, tetapi dengan meluasnya kesejahteraan dan pendidikan, makin luas
lapisan masyarakat yang mengenalnya. Di negeri-negeri Eropa Barat dewasa ini
kebanyakan orang sekurang-kurangnya memiliki sedikit pengetahuan yang baik
mengenai bahasa standar. Orang yang naik kedudukannya dalam masyarakat
memakainya berbicara sebagai bahasa orang dewasa dan hanya itulah yang diteruskannya
kepada anak-anaknya itu kemudian menjadi bahasa ibu lapisan atas penduduk yang
makin tumbuh.
Kita temukan sekarang,
bahwa bangsa-bangsa Romanika senantiasa dan terutama dengan tersebarnya
pendidikan pada zaman modern, memasukkan ungkapan-ungkapan dari bahasa Latin
buku ke dalam bahasa resmi mereka dan kemudian ke dalam tingkat-tingkat biasa,
dalam bentuk fonetis pengucapan membaca tradisional. Pinjaman-pinjaman dari
bahasa tulis itu dikenal sebagai kata-kata pustaka (learned words) atau dengan
istilah Prancis, mots savants [mo savan], kata-kata (orang) terpelajar. Setelah
kata Latin pustaka masuk ke dalam pemakaian lisan, tentu saja dapat terkena
perubahan-perubahan biasa yang kemudian terjadi dalam bahasa; akan tetapi,
kadang-kadang disusul dengan pembentukan kembali ke arah bentuk yang
menyerupai pustaka. Banyak kata Latin yang terdapat dalam bahasa Romanika baik
dalam bentuk modern yang berkembang dengan normal, seperti yang disebut kata
populer, maupun dalam bentuk Latin yang setengah dimodernisasikan (atau Latin
semu), seperti kata pustaka.
PENERAPAN DAN
PANDANGAN
Penutur yang
normal menghadapi masalah bahasa apabila ia mengetahui bentuk-bentuk varian
yang hanya berbeda konotasinya. Bukanlah hal yang kebetulan bahwasanya para
"ahli gramatika" itu muncul pada zaman itu. Selama abad ke-18 dan 19
masyarakat kita mengalami perubahan-perubahan besar; banyak orang dan keluarga
yang mencapai kedudukan-kedudukan yang relatif terhormat dan harus mengubah
bahasa mereka dari nonstandar ke standar. Masalah yang dihadapi penutur yang
mengadakan perubahan itu akan kita bicarakan nanti; sekarang kita lihat bahwa
ajaran yang otoriter memupuk rasa kurang percaya diri penutur-penutur yang
berlatar belakang nonstandar penutur-penutur yang takut untuk percaya kepada
bentuk-bentuk bahasa yang telah mereka dengar dari orang tua dan kakek atau
nerek mereka.
Masyarakat
berurusan dengan persoalan-persoalan bahasa melalui sistem sekolah. Siapa pun
yang terbiasa membedakan perilaku bahasa dengan perilaku nonbahasa mesti
setuju. Dengan kritik bahwa sekolah-sekolah kita terlalu banyak mengurusi
perilaku bahasa, dengan berulang-ulang melatih anak dalam fase-fase respons
bahasa pada berhitung, geografi, atau sejarah, dan mengabaikan melatihnya
dalam perilaku terhadap lingkungan yang sebenarnya. Dalam masyarakat lingkungan
yang lebih sederhana pada beberapa generasi yang lalu, persoalan-persoalan seni
dan ilmu dijauhkan dan proses-proses mekanis dan sosial berjalan dengan ukuran
yang menempatkannya (atau tampaknya menempatkannya) sedemikianrupa sehingga
dapat diamati secara langsung tiap-tiap hari: anak mempelajari
persoalan-persoalan yang nyata tanpa bantuan sekolah, yang hanya perlu
dilatihnya adalah dalam hal membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah-sekolah
tetap berpegang pada pola ini, meskipun kehidupan modern sangat kompleks.
Usaha-usaha untuk memperbaikinya tidak pernah membesarkan hati.
Kesulitan ejaan
kita sangat menghambat pendidikan dasar kita, bahkan membuang-buang banyak
waktu orang-orang dewasa. Kesulitan yang sebenarnya adalah secara ekonomis dan
politis.
Di dalam jangka
waktu lima puluh tahun atau kira-kiranya, ortografi baru itu akan menyebabkan
seluruh naskah cetakan yang ada sekarang menjadi sulit dipahami dan tak
terpakai lagi; bagi cucu-cucu kita bentuk-bentuk yang tercetak dewasa ini akan
mempunyai konotasi samar-samar, sama dengan ejaan-ejaan pada zaman Chaucer bagi
kita. Kita akan sangat kebingungan dan harus mengeluarkan biaya yang sangat
besar sekali untuk menyalin semua naskah yang penting.
Pada suatu tahap
kemudian, dalam pendidikan, di sekolah kita jumpai masalah pengajaran bahasa
asing yang banyak seginya. Demi apa yang disebut tradisi atau kesinambungan
kebudayaan, sebagian tertentu penduduk sebaiknya kenal dengan bahasa-bahasa
kuno, terutama Latin dan Yunani. Demi hubungan dengan bangsa-bangsa lain
terutama untuk memertahankan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan,
sekelompok orang yang agak banyak jumlahnya harus memahami bahasa-bahasa asing
modern. Sebagian besar dari apa yang dilakukan sekolah-sekolah menengah atas
dan sekolah tinggi yang dikhususkan untuk belajar bahasa asing termasuk usaha
sia-sia yang mengerikan: tidak ada satu dari seratus murid yang dapat
berbicara dan memahami, atau bahkan membaca bahasa asing. Nilai disiplin atau
"pemindahan"nya saja dalam mempelajari glosem-glosem bahasa asing
yang secara arbitrer mudah dapat diperkirakan, yaitu hampir-hampir nihil.
Pelaksanaan semua itu telah menimbulkan banyak perselisihan, khususnya mengenai
metode-metode pengajaran bahasa asing. Berbagai "metode" yang telah
dilaksanakan dengan saksama sangat berbeda dalam penjelasan, tetapi sangat
kurang dalam latihan di kelas yang sebenarnya.
Penerapan
linguistik pada perekaman dan penyampaian bahasa, seperti pada stenografi atau
kode-kode, sangat bergantung pada asas fonemisnya dan tidak perlu dibicarakan
secara khusus. Akan tetapi, ada usaha yang mungkin memerlukan segala sumber
daya pengetahuan kita, dan kerja yang lebih keras, yaitu penyusunan suatu
bahasa universal. Keuntungan-keuntungan suatu sarana komunikasi internasional
sudah jelas. Bahasa internasional kiranya tidak akan menyebabkan seseorang
meninggalkan bahasa ibunya. Ini berarti bahwa di tiap-tiap negara akan ada
banyak penutur asing yang berbicara dengan bahasa internasional itu. Sebaiknya
kita tidak menyetujui satu bahasa tertentu saja yang dipelajari di tiap-tiap
negara.
Gerakan untuk
mengadakan bahasa universal merupakan usaha untuk menjadikan bahasa lebih
berguna secara luas. Orang mungkin juga mengharapkan agar linguis berusaha pula
meningkatkan kegunaan bahasa secara intensif dengar. menggarap bentuk-bentuk
bahasa yang akan menimbulkan respons-respons yang berharga dalam kehidupan
nyata. Akan tetapi, tampaknya semua bahasa cukup luwes untuk menyediakan
bentuk-bentuk bahasa semacam itu tanpa bantuan bahasa buatan. Kita dapat
membuat dan mendefinisikan istilah-istilah ilmiah semau kita; penalaran
matematis dapat diterjemahkan ke dalam setiap bahasa. Masalahnya bukanlah
struktur bahasanya, melainkan penerapan praktisnya. Logika dan dialektika zaman
kuno dan abad pertengahan merupakan usaha yang keliru untuk mendapatkan
rumus-rumus wacana yang berguna karena mengandung arti.
Meskipun linguitik
tidak dapat sampai jauh menjelaskan hal-hal yang nyata, ia bertugas
mengklasifikasikan bentuk-bentuk bahasa bilamana artinya telah ditentukan oleh
ilmu pengetahuan lain tertentu. Jadi, kita dapat membuktikan, dalam tiap-tiap
bahasa yang telah diteliti, adanya seperangkat bilangan pokok dan kita dapat
menyelidiki struktur gramatikal bentuk-bentuk itu dan menemukan, misalnya bahwa
pengaturannya dalam kelompok-kelompok sepuluh, sistem desimal, pastilah
tersebar luas. Ahli antropologi segera menerangkan bahwa ini disebabkan oleh
kebiasaan orang menghitung dengan jarinya. Baik terbatasnya pengetahuan kita di
luar bahasa maupun, yang lebih memprihatinkan, tiadanya informasi yang tepat
dan lengkap mengenai bahasa-bahasa di dunia menyebabkan gagalnya usaha untuk
menyusun tata bahasa dan leksikologi umum hingga sekarang. Apabila kita belum
dapat meneruskan penyelidikan-penyelidikan itu dan menggunakan hasil-hasilnya,
kita tidak dapat mengaku memiliki pengetahuan yang dapat diandalkan mengenai
bentuk-bentuk perilaku manusia yang umum.
PENUTUP
Simpulan
Substitut atau
pengganti (substitute) adalah bentuk bahasa atau ciri gramatikal yang, dalam
keadaan-keadaan konvensional tertentu, menggantikan salah satu kelas bentuk
bahasa. Ada dua macam ciri penandaan bahasa yang bermakna: bentuk-bentuk
leksikal, yang terdiri dari fonem-fonem, dan bentuk-bentuk gramatikal, yang
terdiri dari taksem-taksem. Anggapan mengenai perubahan fonetis membagi
perubahan-perubahan bahasa menjadi dua tipe utama. Perubahan fonetis hanya mem
pengaruhi fonem-fonem, dan mengubah bentuk-bentuk bahasa hanya dengan mengubah
bentuk fonetisnya saja.
Meskipun linguistik
tidak dapat sampai jauh menjelaskan hal-hal yang nyata, ia bertugas
mengklasifikasikan bentuk-bentuk bahasa bilamana artinya telah ditentukan oleh
ilmu pengetahuan lain. Jadi, kita dapat membuktikan dalam tiap-tiap bahasa yang
telah diteliti, adanya seperangkat bilangan pokok dan kita dapat menyelidiki
struktur gramatikal bentuk-bentuk itu.
DAFTAR PUSTAKA
Bloomfield,
Leonard. 1995. Language. Jakarta: PT. Gramedia